A Secret of Your Fingerprint

Fingerprint atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan sidik jari telah dikenal sejak lebih dari 100 tahun yang lalu sebagai metode identifikasi individu tertua, paling penting dan menjadi gold standard dalam protokol identifikasi. Sidik jari merupakan reproduksi dari pola bukit (“ridge”) dan lembah (“valleys”) yang tersusun pada permukaan ujung jari-jari tangan maupun kaki yang dapat terdeposisi atau meninggalkan jejak ketika bersentuhan dengan suatu permukaan. Mengapa ketika kita menyentuh sesuatu, sidik jari kita bisa menempel dan meninggalkan jejak? Hal ini dikarenakan pada ujung jari diseliputi oleh ratusan pori-pori keringat yang menyebabkan jari-jari kita terasa lembab sehingga dapat menggenggam dengan baik, dan sisa-sisa keringat inilah yang membuat pola sidik jari membekas pada permukaan.

Gambar 1. A. Pola bukit dan lembah pada permukaan kulit ujung jari. B. Cetakan sidik jari.

“The use of fingerprints for human identification has now evolved into one of the main tools used by law enforcement, professional medical personnel, and disaster response teams for personal identification”

Gambar 2. Proses identifikasi jenazah korban bencana Palu melalui sidik jari yang dilakukan oleh tim INAFIS Polri.

Sidik jari dapat digunakan untuk mengenali individu oleh karena 2 (dua) sebab yaitu:

  • Keunikan: Sidik jari sangat individualistik sehingga tidak ada 2 (dua) orang di dunia memiliki pola sidik jari yang sama, bahkan pada anak kembar sekalipun.
  • Permanen: Pola sidik jari terbentuk dan berkembang saat seseorang masih di dalam kandungan dan tidak akan berubah selama kehidupan orang tersebut kecuali terjadi kerusakan pada permukaan lapisan kulit, bekas luka ataupun penyakit kulit.

Penggunaan sidik jari selain untuk identifikasi individu juga sebagai alat bantu untuk otentifikasi. Apa perbedaannya? Sebagai alat untuk identifikasi adalah untuk menentukan “WHO is he/she?”, sedangkan sebagai alat untuk otentikasi adalah untuk menentukan “Is it really him?” Bisa melihat bedanya kan?

Gambar 3. Ilustrasi penggunaan sidik jari untuk identifikasi melalui pemindaian sidik jari untuk mencari identitas seseorang dengan mencocokkan pada database yang ada.

Gambar 4. Ilustrasi penggunaan sidik jari untuk otentikasi misalnya sebagai security access, sebelum dapat menggunakan perangkat pribadi Anda.

Lanjut ke pengaplikasian fungsi masing-masing. Sebagai alat identifikasi, sidik jari telah ditetapkan sebagai salah satu primary identifier menurut Interpol DVI, bersama dengan DNA dan rekam gigi. Pada sebagian besar kasus forensik, sidik jari dapat membantu untuk melokalisir, mengenali dan mengeliminasi tersangka pada kasus kriminal. Sedangkan sebagai alat otentikasi, misalnya dalam metode verifikasi kecocokan 2 (dua) sidik jari individu, yang saat ini sudah banyak diterapkan pada teknologi otomatis seperti perangkat keamanan biometris pada berbagai perangkat berbasis IT.Contohnya adalah penggunaan MAMBIS (Mobile Automated Multi-Biometric Identification System) oleh INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System), yaitu Unit Khusus Identifikasi POLRI. MAMBIS mampu mengidentifikasi sidik jari dan retina mata dari jenazah tak dikenal melalui integrasi sistem dengan database E-KTP.

Gambar 5. MAMBIS (Mobile Automated Multi-Biometric Identification System).

Ilmu yang mempelajari tentang analisa pola sidik jari disebut dengan daktiloskopi. Pada dasarnya sidik jari dibentuk oleh 3 (tiga) pola dasar yang didasari oleh karakteristik visualnya, yaitu arches, loops, dan whorls. Pola dasar ini nantinya akan dibedakan lebih lanjut ke dalam 8 (delapan) subgrup yang lebih terperinci.

Gambar 6. Tiga pola dasar sidik jari, (a) arches, (b) loops, (c) whorls.

Fakta yang menarik: 65% orang memiliki pola loops, 30% orang memiliki whorls dan 5% orang memiliki arches.

1. Pola Arches

Arches adalah pola paling simpel yaitu berbentuk gunungan/bukit (ridges) yang bermula dari satu sisi dan berakhir di sisi yang lain, dan tidak terdapat delta. Delta adalah titik pertemuan dari setiap garis pola. Pola ini terbagi lagi menjadi 2 (dua) subtipe yaitu plain arch dan tented arches, seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 7. Plain Arch: Garis lengkungan bermula dari satu sisi dan berakhir di sisi yang lain.

Gambar 8. Tented Arches: Mirip dengan plain arch, namun memiliki puncak (spike/tent) yang runcing di tengah.

2. Pola Loops

Loops adalah pola yang memiliki setidaknya 1 (satu) delta dan memiliki 1 (satu) atau lebih gunungan/bukit (ridges) yang bermula dan berakhir di sisi yang sama. Pembagian subtipe dari pola ini dinamakan berdasarkan posisinya berkaitan dengan letak tulang radius dan ulna, maksudnya adalah arah masuk dan keluar garis lengkung berhadapan dengan tulang radius atau ulna dari sidik jari tangan yang dianalisa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 9. Penamaan subtipe pola loops disesuaikan dengan posisinya terhadap tulang radius dan tulang ulna.

3. Pola Whorls

Whorls memiliki sedikitnya 1 (satu) gunungan/bukit (ridge) yang sekan membuat suatu sirkuit/lingkaran komplit, dan memiliki setidaknya 2 (dua) delta. Terdapat 4 (empat) subtipe dari pola ini, yaitu:

Gambar 10. Perbedaan kedua pola di atas adalah, jika saat ditarik garis dari 2 delta, lalu didapatkan hasil bahwa lingkaran menyentuh garis tersebut, maka pola termasuk dalam plain whorl (a). Namun jika lingkaran tidak menyentuh garis, maka termasuk central pocket whorl (b).

Gambar 11. Double Loop Whorl: terbuat dari 2 (buah) loops yang menyatu dalam satu pola.

Gambar 12. Accidental Whorls: mengandung satu atau lebih pola (tidak termasuk plain arch), atau tidak termasuk dalam kategori pola manapun. Terkadang memiliki lebih dari 2 (dua) delta.

Referensi:

  1. Stuart H. James JJN. Forensic Science: An Introduction to Scientific and Investigative Techniques. 4th edition. CRC Press, Taylor and Francis Group; 2009.
  2. Senn DR, Stimson PG. Forensic Dentistry. 2nd ed. Boca Raton, Florida: CRC Press, Taylor and Francis Group; 2010.
  3. Daluz HM. Fundamentals of Fingerprint Analysis. Boca Raton, Florida: CRC Press, Taylor and Francis Group; 2015.
  4. Bertino AJ. Forensic Science: Fundamentals & Investigations. United State of America: South-Western Cengage Learning; 2009.
A Secret of Your Fingerprint

Leave a Reply

Your email address will not be published.